Hari Kebebasan Pers Sedunia 2024, Ini Pesan Sekjen PBB Antonio Guterres

Sekjen PBB, Antonio Guterres (foto/net/situs web PBB)

HITAMPUTIH.CO.ID – Dunia sedang mengalami keadaan darurat lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menimbulkan ancaman nyata bagi generasi sekarang dan mendatang.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres, seperti ditulis di situs web tim negara PBB Indonesia, Jum’at (03/05/2024).

“Masyarakat perlu mengetahui hal ini, dan jurnalis serta pekerja media memiliki peran penting dalam memberikan informasi dan mendidik mereka,” katanya.

Antonio Guterres mengatakan, media lokal, nasional, dan global dapat menyoroti berita tentang krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan ketidakadilan lingkungan.

“Melalui pekerjaan mereka, masyarakat menjadi memahami penderitaan planet kita, dan dimobilisasi serta diberdayakan untuk mengambil tindakan demi perubahan,” ujarnya.

Dijelaskan Antonio Guterres, pekerja media juga mendokumentasikan degradasi lingkungan. Dan hal ini memberikan bukti adanya vandalisme lingkungan yang bisa membantu meminta pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang bertanggung jawab.

“Tidak mengherankan jika sejumlah orang, perusahaan, dan lembaga berpengaruh tidak melakukan apa pun untuk menghalangi jurnalis lingkungan melakukan pekerjaannya,” ungkapnya.

Menurut Antonio, kebebasan media sedang terkepung. Dan jurnalisme lingkungan hidup adalah profesi yang semakin berbahaya.

“Sejumlah jurnalis yang meliput pertambangan ilegal, pembalakan liar, perburuan liar, dan isu-isu lingkungan lainnya telah dibunuh dalam beberapa dekade terakhir,” terangnya.

Antonio Guterres menuturkan, dalam sebagian besar kasus, tidak ada seorang pun yang dimintai pertanggungjawaban.

“UNESCO melaporkan bahwa dalam lima belas tahun terakhir, telah terjadi 750 serangan terhadap jurnalis dan outlet berita yang melaporkan isu-isu lingkungan hidup. Dan frekuensi serangan seperti ini terus meningkat,” paparnya.

Dikatakan Antonio, proses hukum juga disalahgunakan untuk menyensor, membungkam, menahan, dan melecehkan wartawan lingkungan hidup, sementara era baru disinformasi iklim berfokus pada melemahkan solusi yang sudah terbukti, termasuk energi terbarukan.

“Namun jurnalis lingkungan bukan satu-satunya yang berisiko,” jelasnya.

Ditambahkan Antonio, di seluruh dunia, para pekerja media mempertaruhkan nyawa mereka untuk mencoba memberi kita berita tentang segala hal mulai dari perang hingga demokrasi.

“Saya terkejut dan terkejut dengan tingginya jumlah jurnalis yang tewas dalam operasi militer Israel di Gaza,” ucapnya.

Terakhir, Antonio Guterres menegaskan, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengakui kerja berharga para jurnalis dan profesional media dalam memastikan bahwa masyarakat mendapatkan informasi dan keterlibatan.

“Tanpa fakta, kita tidak bisa melawan misinformasi dan disinformasi. Tanpa akuntabilitas, kita tidak akan memiliki kebijakan yang kuat,” tandasnya.

Tanpa kebebasan pers, imbuh Antonio Guterres, kita tidak akan mempunyai kebebasan apa pun. Pers yang bebas bukanlah sebuah pilihan, namun sebuah keharusan.

“Hari Kebebasan Pers Sedunia sangatlah penting. Oleh karena itu, saya menyerukan kepada pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk bergabung bersama kami dalam menegaskan kembali komitmen kami untuk menjaga kebebasan pers dan hak-hak jurnalis dan profesional media di seluruh dunia,” beber Sekjen PBB Antonio Guterres, menutup pidatonya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *