Antisipasi Erupsi Anak Krakatau, Sekolah di Banten Terapkan PJJ 3 Hari


SERANG, HITAM PUTIH – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten mengimbau seluruh satuan pendidikan di delapan kabupaten/kota untuk menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama tiga hari sebagai langkah antisipasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

PJJ diberlakukan pada 7, 8, dan 9 September 2026. Kebijakan tersebut mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari TK/PAUD, SD, SMP, SMA, SMK hingga Sekolah Khusus (SKH).

Kepala Dindikbud Provinsi Banten, Dr H Jamaludin, M.Pd., mengatakan imbauan tersebut telah disampaikan kepada seluruh bupati dan wali kota di Provinsi Banten.

Menurut Jamaludin, kebijakan PJJ diambil untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan terhadap peserta didik, terutama akibat paparan abu vulkanik yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Banten.

“Karena memang kemarin juga ada erupsi Gunung Krakatau yang cukup terasa, sehingga untuk mencegah anak-anak kita jangan sampai mengalami gangguan kesehatan, dikeluarkan imbauan kepada seluruh jenjang pendidikan di wilayah delapan kabupaten dan kota di Provinsi Banten untuk melaksanakan PJJ,” ujar Jamaludin.

PJJ Bukan Berarti Pembelajaran Dihentikan

Jamaludin menegaskan pelaksanaan PJJ bukan berarti kegiatan pendidikan dihentikan. Peserta didik tetap mengikuti proses belajar dari rumah secara daring sesuai jadwal dan materi yang diberikan sekolah.

Ia meminta orang tua turut mengawasi sekaligus membimbing anak selama mengikuti pembelajaran jarak jauh. Para guru juga diminta tetap menjalankan pembelajaran secara profesional agar materi dapat diterima peserta didik secara optimal.

“Dengan PJJ ini, mudah-mudahan anak-anak kita tetap sehat dan tetap belajar secara daring di rumah masing-masing. Yang penting orang tua mengawasi dan membimbing, termasuk guru-gurunya juga betul-betul melaksanakan PJJ sesuai dengan apa yang kita harapkan,” katanya.

Pengawas Pendidikan Turun ke Lapangan

Untuk memastikan kebijakan tersebut berjalan efektif, Dindikbud Provinsi Banten menurunkan seluruh pengawas pendidikan untuk melakukan monitoring dan evaluasi.

Pengawas SMA, SMK, dan SKH ditugaskan memantau pelaksanaan PJJ sekaligus melihat kondisi peserta didik di wilayah yang terdampak abu vulkanik.

“Saya turunkan seluruh pengawas yang ada di Provinsi Banten, baik pengawas SMA, SMK maupun SKH. Kita sudah turunkan untuk mengecek dan mengevaluasi seperti apa pembelajarannya, apakah maksimal atau belum,” ujar Jamaludin.

Hingga Senin pagi, Dindikbud Banten belum menerima laporan signifikan mengenai kendala pelaksanaan PJJ dari kabupaten/kota.

Pemantauan juga dilakukan di sejumlah wilayah yang dinilai cukup dekat dengan kawasan terdampak, seperti Labuan, Carita, Anyer dan sekitarnya.

Jamaludin menyebut dampak abu vulkanik bahkan mulai dirasakan hingga wilayah Tangerang. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam upaya melindungi peserta didik dari potensi gangguan kesehatan.

“Kalau kita lihat, dampaknya sampai ke Kota Tangerang juga terasa. Abu vulkaniknya cukup luar biasa,” katanya.

Guru Tetap Mengajar dari Sekolah

Di tengah pelaksanaan PJJ, para guru diharapkan tetap menjalankan tugas dari satuan pendidikan masing-masing.

Jamaludin menilai kondisi erupsi yang mulai menurun masih memungkinkan guru melaksanakan pembelajaran daring dari sekolah.

“Kalau untuk gurunya saya rasa masih di sekolah karena absensinya di sekolah. Saya berharap guru-guru tetap mengajar di sekolah dan memberikan materi secara daring dari sekolah masing-masing,” tuturnya.

Ia menegaskan pengawasan tidak hanya menyangkut kehadiran peserta didik, tetapi juga kualitas pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, PJJ diharapkan tetap menjamin hak peserta didik memperoleh pendidikan sekaligus mengurangi risiko paparan abu vulkanik.

Pemprov Banten berharap aktivitas Gunung Anak Krakatau segera kembali mereda sehingga kegiatan pendidikan dapat dilaksanakan secara normal.

“Mudah-mudahan secepatnya erupsi ini bisa berakhir. Kita berharap kondisinya terus menurun sehingga tidak ada lagi abu yang begitu luar biasa dan aktivitas pembelajaran dapat kembali berjalan normal,” pungkasnya.(R,Ari)