Kabupaten Serang Kering Kerontang, PMI Guyur Warga dengan 710 Ribu Liter Air Bersih


SERANG, HITAM PUTIH
- Musim kemarau panjang emang sering bikin pusing, apalagi kalau sumur di rumah mulai kering. Merespons krisis ini, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Serang langsung gerak cepat mengguyur daerah terdampak kekeringan dengan 710 ribu liter bantuan air bersih.

Penyaluran air bersih yang bikin adem ini bertepatan sama perayaan ulang tahun PMI ke-81 tingkat Kabupaten Serang, Kamis (17/9/2026). Perwakilan PMI menyebutkan, kolaborasi dengan pemerintah desa sangat membantu agar pasokan air bisa langsung sampai ke warga yang benar-benar kehausan.

“Kurang lebih 500 ribu liter, plus hari ini ditambah 210 ribu liter. Jadi kurang lebih hampir sudah 710 ribu liter yang didistribusikan di Kabupaten Serang,” ujar perwakilan PMI.

Tim relawan memastikan tangki-tangki air akan terus mondar-mandir masuk ke perkampungan. Prinsip mereka jelas, pantang pulang sebelum dahaga warga hilang.

“Selama rakyat masih membutuhkan, PMI terus hadir,” katanya.

Selain fokus ke urusan air, PMI juga membagikan total 55 ribu masker untuk merespons kondisi rawan bencana di Banten, termasuk sisa erupsi Gunung Krakatau. Detailnya, 30 ribu masker dari PMI Provinsi Banten dan 20 ribu masker dari PMI Kabupaten Serang.

Relawan Desa Jadi Garda Terdepan

Urusan bencana memang bukan cuma tugas satu daerah. Ketua PMI Provinsi Banten menegaskan kalau pergerakan relawan itu menembus batas wilayah. Buktinya, PMI Banten belum lama ini mengirimkan tim dokter dan perawat untuk membantu warga di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Dalam penanganan bencana alam atau nonalam ini kan lintas wilayah kalau PMI,” ujarnya.

Biar tingkat lokal nggak kalah tangguh, PMI Banten terus nge-gas pembentukan Satuan Siaga Bencana (SIBAT) di tiap desa. Saat ini sudah ada 53 desa yang punya tim SIBAT hasil kolaborasi bareng pemerintah daerah, TNI, dan Polri.

“Di setiap desa itu harus dibentuk SIBAT karena relawan itu harus ada di desa masing-masing di mana mereka punya potensi bencana,” katanya.

Setiap desa punya "musuh" bencana yang beda-beda. Lewat SIBAT, anak-anak muda dari Pramuka sampai Karang Taruna dilatih buat jago memetakan risiko. Jadi, warga tahu persis harus ngapain sebelum, saat, dan sesudah bencana datang.

“Beda-beda kan, ada yang banjir, ada yang kebakaran, ada yang puting beliung. Jadi masyarakat setempat desanya itu harus tahu potensi apa di desanya mereka masing-masing,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan tasyakuran ini juga diselingi pemberian santunan buat anak yatim, marbot masjid, serta petugas kebersihan dan keamanan. PMI juga menggelar doa bersama untuk para jurnalis dan awak kapal yang kini masih dalam proses pencarian.

Hadir dalam acara tersebut tokoh masyarakat H. Fahmi Hakim, SE dan Ratu Ratu Hasanah. Sebagai penutup rangkaian HUT ke-81, PMI rencananya bakal memberikan penghargaan khusus buat para pendonor darah yang selama ini jadi pahlawan kemanusiaan di Banten.

Penulis: Ari