HUT ke-26 Banten: Dari Rasa Syukur sampai Kisah Sayembara Telaga Semalam

BANTEN, HITAM PUTIH - Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang dirangkai dengan HUT ke-26 Provinsi Banten menjadi momentum untuk mengajak masyarakat bersyukur sekaligus kembali mengingat perjalanan panjang Banten.
Dalam kegiatan tersebut, penceramah mengawali sambutan dengan mengutip firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW tentang pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
“Khairunnas anfa’uhum linnas,” yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Sejumlah unsur pemerintahan, tokoh masyarakat, serta undangan hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Ketua DPRD Provinsi Banten, Bapak Haji Muhyiddin, SE, Haji Muksinin, anggota DPRD, para ulama dan kiai, perwakilan Polda, serta unsur pemerintahan dan masyarakat lainnya.
Dalam pidatonya, penceramah mengajak seluruh hadirin memanjatkan rasa syukur atas perjalanan Provinsi Banten yang kini memasuki usia 26 tahun.
“Alhamdulillah, kita bersyukur atas limpahan nikmat dan karunia Allah SWT. Hari ini Provinsi Banten telah berdiri selama 26 tahun,” ujarnya.
Menurutnya, rasa syukur tidak seharusnya menunggu seseorang atau suatu daerah mencapai kemakmuran terlebih dahulu. Rasa syukur justru harus menjadi bagian dari kehidupan sejak seseorang menerima nikmat dari Allah SWT.
“Kalau kita ingin makmur, bersyukurlah. Jangan menunggu makmur baru bersyukur. Allah telah berjanji, apabila kita bersyukur atas nikmat-Nya, maka Allah akan menambah nikmat tersebut,” tuturnya.
Ia kemudian mengingatkan kembali firman Allah SWT dalam Surah Ibrahim ayat 7:
“La’in syakartum la’aziidannakum wa la’in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa apabila manusia bersyukur, Allah SWT akan menambah nikmat-Nya.
Dua Momentum dalam Satu Peringatan
Pertemuan tersebut disebut memiliki dua momentum penting. Pertama, memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Kedua, menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-26 Provinsi Banten yang puncaknya diperingati pada 4 Oktober.
Namun, pembahasan dalam kegiatan itu tidak berhenti pada usia administratif sebuah provinsi. Sejarah Banten yang jauh lebih panjang ikut dibawa ke tengah peringatan.
Sejarah Banten Disebut Hampir 500 Tahun
Penceramah mengajak masyarakat tidak melupakan sejarah panjang Banten. Menurutnya, usia Provinsi Banten sebagai daerah otonom memang baru 26 tahun, tetapi sejarah Banten sebagai wilayah pemerintahan dan pusat peradaban telah berlangsung selama ratusan tahun.
“Kalau provinsinya baru 26 tahun, tetapi kalau kita berbicara tentang berdirinya Banten, sejarahnya sudah hampir 500 tahun,” katanya.
Dalam paparannya, sejarah awal Kesultanan Banten juga dikaitkan dengan perjalanan penyebaran Islam di wilayah tersebut. Sejarah Banten disebut tidak dapat dilepaskan dari Pajajaran dan tokoh-tokoh penyebar Islam, termasuk Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Ia menjelaskan, sebelum kedatangan Syekh Syarif Hidayatullah ke Banten, sejumlah wali dan ulama telah datang untuk menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.
Dalam kisah yang disampaikan, kondisi masyarakat Banten pada masa itu dikenal memiliki tradisi kesaktian dan keberadaan para jawara yang kuat. Kondisi tersebut disebut menjadi tantangan bagi para ulama yang datang untuk menyebarkan Islam.
Beberapa nama ulama juga disebut dalam tradisi sejarah dan cerita masyarakat yang dikaitkan dengan perjalanan dakwah Islam di Banten, di antaranya Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili dan Maulana Maghribi.
Kisah Sayembara Membuat Telaga dalam Satu Malam
Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam paparan tersebut adalah kisah yang berkembang dalam tradisi sejarah Banten mengenai seorang putri Prabu Surosowan.
Dikisahkan, sang putri pernah mengadakan sayembara untuk mencari sosok yang dianggap paling sakti. Sayembara itu bukan berkaitan dengan kekayaan, melainkan kemampuan dan kesaktian.
Tantangannya cukup spesifik: membuat sebuah telaga dalam waktu satu malam.
Para jawara dan orang-orang yang dikenal memiliki kesaktian dari berbagai wilayah disebut datang untuk mengikuti sayembara tersebut. Namun, menurut kisah yang disampaikan, tidak ada yang mampu menyelesaikan tantangan tersebut.
Hingga akhirnya, Syekh Syarif Hidayatullah disebut sebagai sosok yang mampu memenuhi tantangan itu.
Kisah tersebut kemudian dikaitkan dengan pertemuan antara Syekh Syarif Hidayatullah dan putri Prabu Surosowan. Dalam cerita yang disampaikan, sang putri disebut beberapa kali melihat sosok Syekh Syarif Hidayatullah melalui pantulan air ketika dirinya hendak mandi.
Ketika akhirnya bertemu secara langsung, ia menyadari bahwa sosok yang selama ini dilihatnya dalam pantulan air adalah Syekh Syarif Hidayatullah.
Kisah tersebut merupakan bagian dari cerita sejarah dan tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat Banten.
Syukur dan Sejarah untuk Membangun Banten
Melalui momentum peringatan Hari Kesaktian Pancasila dan HUT ke-26 Provinsi Banten, masyarakat diajak tidak hanya mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga menjadikan rasa syukur sebagai landasan dalam membangun Banten.
Pesan tersebut ditutup dengan ajakan kepada seluruh hadirin untuk terus bersyukur kepada Allah SWT, menjaga persatuan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Penulis: Ari