Cek Kesehatan Gratis di Banten Tembus 7,26 Juta Pemeriksaan, Dinkes Dorong Deteksi Dini


SERANG, HITAM PUTIH -
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Banten telah mencapai sekitar 7,26 juta pemeriksaan. Dinas Kesehatan Provinsi Banten mendorong agar pemeriksaan tidak sekadar mengejar target nasional, tetapi menjadi pintu masuk untuk menemukan penyakit sejak dini.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS., menegaskan pemeriksaan kesehatan gratis tidak boleh berhenti pada pencapaian target nasional.

Pemerintah daerah didorong memastikan seluruh masyarakat mendapatkan akses pemeriksaan dan deteksi dini penyakit.

“Target nasional sekitar 46 persen, tetapi kita tidak boleh berhenti pada angka itu. Keinginan Bapak Gubernur adalah seluruh masyarakat mendapatkan akses layanan kesehatan,” ujarnya.

Kegiatan CKG di Kota Serang pada Kamis (1/10/2026) turut dihadiri Gubernur Banten dan Wali Kota Serang. Hingga saat ini, capaian CKG di Banten disebut telah mencapai sekitar 7,26 juta pemeriksaan.

Menurut Ati, pemeriksaan kesehatan juga penting untuk memetakan persoalan kesehatan masyarakat, mulai dari penyakit tidak menular hingga gangguan kesehatan pada anak dan remaja.

Untuk kasus influenza, masyarakat diimbau tidak panik. Sebagian besar infeksi dapat membaik dengan sendirinya apabila daya tahan tubuh terjaga, disertai istirahat cukup, aktivitas fisik, konsumsi makanan bergizi, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Meski begitu, pemeriksaan tetap diperlukan untuk mendeteksi kasus sejak dini sekaligus memberikan edukasi agar pasien tidak menularkan penyakit kepada orang lain.

“Ketika kasus ditemukan, masyarakat harus diedukasi bagaimana mencegah penularan dan bagaimana agar cepat sembuh,” katanya.

Fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, klinik, dan rumah sakit akan berperan dalam melakukan skrining serta deteksi dini berbagai penyakit. Dengan begitu, masyarakat yang membutuhkan penanganan dapat segera memperoleh pengobatan.

Penanganan Campak Tetap Diperkuat

Selain CKG, Dinas Kesehatan Banten terus memperkuat penanganan campak. Imunisasi dilakukan secara luas sebagai bagian dari upaya memutus rantai penularan.

Program imunisasi campak telah dilaksanakan di tujuh kabupaten/kota. Hasilnya, kondisi kasus campak disebut mengalami penurunan dan semakin terkendali.

Meski tidak semua daerah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB), penanganan tetap dilakukan dengan mengacu pada prosedur pengendalian KLB untuk mempercepat pemutusan rantai penularan.

Penanganan juga menyasar lingkungan sekolah karena anak usia sekolah termasuk kelompok yang rentan terhadap penularan. Dalam kondisi tertentu, pembelajaran jarak jauh sempat diterapkan sebagai bagian dari upaya pengendalian penyebaran.

Hipertensi, Diabetes hingga Gangguan Mata

Hasil pemeriksaan kesehatan juga memberikan gambaran mengenai masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat Banten.

Pada kelompok remaja hingga lanjut usia, hipertensi dan diabetes menjadi salah satu persoalan yang banyak ditemukan. Sementara pada anak usia sekolah, gangguan penglihatan, termasuk mata minus, menjadi perhatian.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penerapan pola hidup sehat dan gizi seimbang sejak usia dini.

“Ini harus dikombinasikan dengan bagaimana program MBG dijalankan, salah satunya untuk meningkatkan daya tahan tubuh, termasuk memperbaiki kesehatan dan fungsi penglihatan anak,” ujarnya.

HIV Masuk Perhatian dalam Pelayanan Dasar

Dinas Kesehatan juga menempatkan HIV sebagai salah satu prioritas pelayanan kesehatan dasar atau Standar Pelayanan Minimal (SPM) kabupaten/kota.

Penanganan HIV tidak cukup hanya menunggu seseorang dinyatakan positif. Upaya promotif dan preventif perlu diperkuat melalui edukasi, skrining, dan deteksi dini.

Upaya tersebut termasuk notifikasi pasangan, yakni pemeriksaan terhadap pasangan dari seseorang yang telah terdiagnosis HIV untuk memastikan adanya kemungkinan penularan sekaligus mempercepat penanganan.

Dengan perluasan CKG, penguatan imunisasi, skrining penyakit, serta edukasi kesehatan, pemerintah berharap persoalan kesehatan masyarakat dapat diketahui lebih cepat dan ditangani sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Mengingat Sejarah Panjang Banten

Dalam kesempatan tersebut, Ati juga mengajak masyarakat untuk tidak melupakan sejarah panjang Banten.

Menurutnya, usia Provinsi Banten sebagai daerah otonom memang baru 26 tahun. Namun, sejarah Banten sebagai wilayah pemerintahan dan pusat peradaban telah berlangsung selama ratusan tahun.

“Kalau provinsinya baru 26 tahun, tetapi kalau kita berbicara tentang berdirinya Banten, sejarahnya sudah hampir 500 tahun,” katanya.

Ati kemudian mengisahkan sejarah awal Kesultanan Banten dan kaitannya dengan perjalanan penyebaran Islam di wilayah tersebut.

Dalam paparannya, sejarah Banten tidak dapat dilepaskan dari Pajajaran dan tokoh-tokoh penyebar Islam, termasuk Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Ia menjelaskan bahwa sebelum kedatangan Syekh Syarif Hidayatullah ke Banten, sejumlah wali dan ulama telah datang untuk menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.

Namun, menurut kisah yang disampaikannya, kondisi masyarakat Banten pada masa itu dikenal memiliki tradisi kesaktian dan keberadaan para jawara yang kuat, sehingga para ulama yang datang sebelumnya menghadapi tantangan dalam menyebarkan Islam.

Ia kemudian menyebut beberapa nama ulama yang dalam tradisi sejarah dan cerita masyarakat dikaitkan dengan perjalanan dakwah Islam di Banten, di antaranya Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili dan Maulana Maghribi.

Kisah Sayembara Putri Prabu Surosoan

Bagian lain dari pidatonya mengangkat kisah yang berkembang dalam tradisi sejarah Banten mengenai seorang putri Prabu Surosoan.

Dikisahkan, sang putri pernah mengadakan sayembara untuk mencari sosok yang dianggap paling sakti. Sayembara tersebut bukan berkaitan dengan kekayaan, melainkan kemampuan dan kesaktian.

Tantangannya adalah membuat sebuah telaga dalam waktu satu malam.

Para jawara dan orang-orang yang dikenal memiliki kesaktian dari berbagai wilayah datang untuk mengikuti sayembara tersebut. Namun, menurut kisah yang disampaikan, tidak ada yang mampu menyelesaikan tantangan tersebut.

Hingga akhirnya, Syekh Syarif Hidayatullah disebut sebagai sosok yang mampu memenuhi tantangan itu.

Kisah tersebut kemudian dikaitkan dengan pertemuan antara Syekh Syarif Hidayatullah dan putri Prabu Surosowan.

Dalam cerita yang disampaikan, sang putri disebut telah beberapa kali melihat sosok Syekh Syarif Hidayatullah melalui pantulan air ketika dirinya hendak mandi. Ketika akhirnya bertemu secara langsung, ia menyadari bahwa sosok yang selama ini dilihatnya dalam pantulan air adalah Syekh Syarif Hidayatullah.

Kisah tersebut menjadi salah satu bagian dari cerita sejarah dan tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat Banten.

Melalui momentum peringatan Hari Kesaktian Pancasila dan HUT ke-26 Provinsi Banten, Ati mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga menjadikan rasa syukur sebagai landasan dalam membangun Banten.

Ia menutup pesannya dengan mengajak seluruh hadirin untuk terus bersyukur kepada Allah SWT serta menjaga persatuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Penulis: Ari