Di Balik Proyek Sodetan Karian, Warga Ungkap Deretan Keluhan yang Belum Tuntas



HITAM PUTIH, LEBAK – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Keluarga Seni Silat dan Tari Indonesia Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (KESTI TTKKDH) Kecamatan Maja bersama sejumlah warga terdampak menggelar aksi penyampaian aspirasi di lokasi Proyek Sodetan Karian di Kampung Pasir Peuteuy, Desa Padasuka, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Jumat (24/7/2026).

Aksi tersebut merupakan tindak lanjut atas berbagai keluhan masyarakat yang terdampak aktivitas proyek. Penyampaian aspirasi juga mengacu pada surat DPC KESTI TTKKDH Kecamatan Maja Nomor 38/DPC/KESTI TTKKDH/LEBAK/VI/2026.

Dalam aksi yang didominasi kaum ibu, warga menyampaikan sejumlah persoalan yang dinilai belum mendapatkan penanganan optimal dari pihak pelaksana proyek. Salah satu keluhan utama ialah tingginya polusi debu akibat lalu lintas kendaraan proyek yang melintasi kawasan permukiman.

Koordinator lapangan aksi, Dodo Romdoni, mengatakan debu yang beterbangan setiap hari dinilai mengganggu kesehatan dan kenyamanan masyarakat di sekitar jalur proyek. Selain itu, aktivitas alat berat dan kendaraan proyek juga disebut menimbulkan kebisingan yang mengganggu kegiatan warga, terutama pada waktu istirahat dan malam hari.

"Debu yang muncul setiap hari sangat mengganggu kesehatan dan kenyamanan warga. Kami juga berharap kebisingan dari aktivitas proyek dapat dikendalikan agar tidak mengganggu masyarakat," ujar Dodo Romdoni.

Selain persoalan debu dan kebisingan, warga juga menyoroti kerusakan sejumlah ruas jalan yang diduga dipicu tingginya mobilitas kendaraan bertonase besar. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan sekaligus mengurangi kenyamanan masyarakat.

DPC KESTI TTKKDH Kecamatan Maja juga menilai aspek keselamatan lalu lintas di sekitar proyek masih perlu ditingkatkan. Menurut mereka, sejumlah titik dinilai masih minim petugas pengatur lalu lintas maupun rambu-rambu peringatan sehingga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan.

Dalam kesempatan itu, masyarakat turut menyampaikan dugaan adanya tunggakan pembayaran gaji terhadap sejumlah warga yang sebelumnya bekerja di proyek dan hingga kini belum diterima.

Melalui aksi tersebut, DPC KESTI TTKKDH Kecamatan Maja meminta pihak pelaksana proyek melakukan penyiraman jalan secara rutin untuk mengurangi debu, mengendalikan kebisingan sesuai ketentuan, memperbaiki jalan yang rusak akibat aktivitas proyek, meningkatkan keselamatan lalu lintas, serta memperkuat komunikasi dengan masyarakat dan pemerintah desa.

Mereka juga meminta perusahaan segera menyelesaikan pembayaran gaji yang masih tertunggak serta memberikan kesempatan kerja yang lebih luas kepada masyarakat sekitar.

Kepala Desa Padasuka, Dudi Madudi, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi jalannya aksi penyampaian aspirasi yang berlangsung tertib.

"Kami mengapresiasi aksi penyampaian aspirasi yang berlangsung tertib dan damai. Pada bulan lalu sebenarnya sudah ada kesepakatan antara pihak proyek dengan KESTI TTKKDH," kata Dudi Madudi.

Menanggapi aspirasi tersebut, Kepala Seksi KSCS Project yang mewakili PT Waskita menyatakan persoalan yang terjadi diduga dipengaruhi oleh miskomunikasi. Ia mengatakan seluruh keluhan masyarakat telah disampaikan kepada manajemen PT Waskita.

"Kami sudah menyampaikan seluruh keluhan masyarakat kepada manajemen PT Waskita dan mengajak kembali untuk melakukan mediasi bersama di kantor PT Waskita yang berada di Ciuyah, Kecamatan Sajira," ujarnya.

Aksi penyampaian aspirasi mendapat pengawalan personel Polres Lebak Polda Banten yang dipimpin Kapolsek Maja AKP Iwan Sofiyan, SE, MM, bersama personel Polres Lebak. Pengamanan juga melibatkan personel Polsek Maja, Polsek Curugbitung, Polsek Sajira, Polsek Muncang, Polsek Lebakgedong, Polsek Cipanas, dan Polsek Cibadak.

Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan kondusif. Namun, peserta aksi menyatakan akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan yang mereka sampaikan tidak memperoleh tanggapan dari pihak pelaksana proyek.

Dalam mediasi bersama di kantor PT Waskita yang berada di Ciuyah, Kecamatan Sajira, menanggapi keluhan mengenai debu yang ditimbulkan kendaraan proyek, pihak perusahaan meminta masyarakat berperan aktif dengan menyampaikan informasi mengenai titik-titik yang paling terdampak. Langkah tersebut dinilai penting agar penyiraman jalan dapat dilakukan secara lebih efektif dan tepat sasaran.

"Kami membutuhkan masukan dari masyarakat terkait lokasi-lokasi yang terdampak. Kami mohon diinformasikan titik mana saja yang perlu dilakukan penyiraman secara rutin," ujar perwakilan PT Waskita Karya.

Selain persoalan debu, perusahaan juga menindaklanjuti aspirasi warga mengenai kebisingan yang muncul akibat aktivitas pekerjaan proyek pada malam hari. Sebagai bentuk respons, PT Waskita Karya menyatakan telah menghentikan pekerjaan pada malam hari untuk mengurangi gangguan terhadap masyarakat.

"Untuk masalah kebisingan, kami sudah menghentikan pekerjaan hingga malam hari," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, manajemen PT Waskita Karya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena pelaksanaan proyek dinilai belum sepenuhnya memenuhi harapan warga terdampak. Perusahaan menegaskan seluruh masukan yang disampaikan akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan pelaksanaan proyek ke depan.

"Kami meminta maaf karena belum bisa memenuhi harapan masyarakat. Masukan dari warga akan menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan proyek ke depan lebih baik," ungkapnya.

PT Waskita Karya juga menegaskan komitmennya untuk memberikan kesempatan kerja kepada masyarakat di sekitar proyek sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan kompetensi yang dimiliki calon pekerja.

"Kalau ada warga setempat yang ingin bekerja, kami persilakan. Namun tentu harus memiliki keterampilan dan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Untuk pekerjaan yang bersifat umum atau pekerjaan berat yang tidak memerlukan keahlian khusus, kami juga membuka kesempatan selama yang bersangkutan bersedia bekerja," terang perwakilan PT Waskita Karya.